Lalu apa yang membuat aku kembali menulis disini, setelah post terakhir tahun 2018, dan draft terakhir yang nggak di publish tahun 2021?
Halo blog yang debu nya setinggi egoku.
Mau minta maaf rasanya buat apa minta maaf sama blog? Harusnya minta maaf sama diri sendiri yang gak rutin jurnaling disini. Walau nggak ada pembacanya sih. Bahkan blog ini udah aku hide dari google search.
Dulu pengen banget ini dibaca orang, sekarang aku lebih suka agak misterius tipis. Iya tipis aja, biar ini jadi arsip yang hanya orang yang "kepikiran" kesini buat baca. Orang-orang di masa lalu ku. atau let's announce to social media that I've updated this blog? wkwk labil.
Ok back to topic, tentang menata kecewa.
Aduh tulisanku gak improve banget yaaa, jarang nulis dan upgrade skill sih huft.
MENATA KECEWA...
In the past few years, walau status gw sekarang cuma IRT, of course gw stay connected dengan beberapa teman (online/offline).
And lately, gw semakin sadar kalau hubungan antar manusia itu sebenernya harus ada simbiosis mutualisme atau timbal balik.
Nggak ada yang namanya volunteer dalam hubungan, kecuali lo adalah keluarga (blood related) atau emang lagi dalam program volunteer/sedekah.
Bahkan dalam pertemanan, at some point harusnya ada some business juga, nggak sih?
Seharusnya gw udah mikir kayak gini dari dulu. But in friendship, sometimes feelings get involved, kan?
So yeah, beberapa bulan terakhir, ada beberapa orang yang really hurt my feelings… or disappointing me.
But did they? Really?
Well, hanya Allah yang tak pernah mengecewakan.
Kadang, ketika kita merasa dikecewakan orang lain, itu sebenarnya juga soal bagaimana kita menerima dan mengelolanya.
Kecewa itu valid, tapi nggak selalu sepenuhnya salah mereka. It’s also about where we place our expectations and feelings.
Bukan berarti orang lain selalu benar, tapi dalam proses menjadi manusia, kita belajar untuk lebih bijak dalam merespons.
Apakah kita membiarkan rasa kecewa itu menyakiti?
Mengolahnya jadi pelajaran? Atau malah memilih memperbaiki hubungan dengan orang yang mengecewakan kita? Atau justru kita menyadari bahwa beberapa hubungan memang nggak perlu diperbaiki?
Some people are just not meant to stay, and that’s okay. Life goes on, and the people who truly matter will either stay or find their way back.
Yang penting, kita nggak nyangkut di rasa kecewa itu terlalu lama.
Instead of holding onto the pain, mungkin lebih baik fokus ke hal-hal yang bisa kita kontrol—growth, boundaries, and surrounding ourselves with people who genuinely care.
At the end of the day, kita yang menentukan apakah rasa kecewa itu jadi luka yang berlarut-larut atau sekadar momen belajar yang bikin kita lebih kuat.
This blog waaay to personal ya haha even when I'm udah kepala 3, meanwhile I started this blog when I was a teenage girl (around 14/15, wowww).
OK BYE!





0 comments:
Post a Comment
I'd love to hear your thoughts! Please comment here :)