I’m too excited


Sore ini aku mendengar suara burung berkicau dan suara anak-anak sedang bermain bola dari balik tembok kamar kosanku, membangunkan tidur siangku yang panjang. Atau terlalu panjang mungkin? Kurang lebih aku dua setengah jam aku tidur siang ini dengan sebelumnya sempat terbangun oleh suara petir yang sangat kencang. Entah kenapa setelah do’a mendengar petir aku lantas ingin tidur lagi. Jadilah tidur itu semakin lama.

Sebelumnya aku telah mendapat telepon dari mama. Dia menanyakan kapan aku akan pulang sore ini, karena besok aku harus mengantar adik-adikku kerumah nenek dan bertemu Papa disana. Sudah hamper 6 bulan aku tidak bertemu dengannya. Dia sangat sibuk beberapa bulan belakangan ini. Mama sudah memperingatkan untuk tidak pulang terlalu malam dan aku tahu benar resikonya jika membantah. Mendengar nyanyian mama yang seperti hitz di radio itu. Diulang lagi. Lagi. Dan lagi. Kali ini aku tidak mau melanggarnya. Serius. Tapi.. entah kenapa aku hanya ingin masih di kamar ini. Aku masih ingin menyendiri disini. Aku ingin disini lebih lama. Dengan alasan hendak membereskan kamar dan tidur siang aku diperbolehkan untuk pulang agak terlambat, dengan toleransi paling lambat pulang sore.

Ini sudah sore menjelang magrib di Bogor, aku masih tidak mau bergerak meninggalkan kamar ini. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan hawa dinginnya yang masih mau menyelimuti kulit ini. Dia bilang belum mau pergi, sebelum perasaan dingin yang sedang aku rasakan saat ini juga pergi. Biar kompak katanya. Dingin luar dalam. Entahlah. Aku memang sedang merasa sangat tidak beraturan beberapa minggu belakangan ini. Sesuatu yang harus aku persiapkan untuk waktu dekat ini adalah packing barang-barang tidak terpakai untuk dibawah kerumah dan mental untuk mendengar nyanyian mama lagi malam ini. Yup, sepertinya aku akan pulang terlambat lagi malam ini.

I’m too excited for everything. That’s fact.

Aku sangat senang akhirnya bisa ketemu papa malam minggu ini, dirumah nenek di Jakarta. Aku telah membatalkan janjiku untuk mendatangi suatu acara di kampus, acara tahunan untuk mahasiswa baru, OPEN HOUSE. Merasa tidak enak, karena biasanya aku lagi-lagi terlau excited untuk acara seperti ini, tapi dengan berat hati aku harus mendahulukan bertemu papa. 6 bulan bukan waktu yang sebentar. Lagipula tahun lalu aku sudah menghadiri acara yang sama.


Sudah hamper magrib sekarang, aku masih belum juga siap-siap. Tiba-tiba mama menelepon lagi, kupikir ia ingin mengecek apakah aku sudah berangkat dari Bogor atau belum, aku pikir lagi dia pasti langsung ngomel jika tahu ternyata aku masih santai-santai dikosan. Ternyata aku salah. Dia malah memperbolehkan aku untuk tetap tinggal dikosan. Kabar buruk, papa tidak jadi bisa bertemu, mendadak ia harus menemani bos-nya untuk ke Bandara, menjemput tamu dadakan dari China. Sampai telepon itu selesai, aku sudah tidak bisa lagi menahan tangis. Aku langsung meledak ditempat. Aku sudah tidak mood lagi ikut acara OPEN HOUSE itu. Ternyata too excited bikin too depressed ya. Sudah sangat excited untuk bertemu papa, tiba-tiba batal.

Tidak lama setelah itu, papa juga menelponku. Aku panik. Aku benar-benar tidak mau kalau papa tahu aku sedang menangis. Aku menghela nafas panjang, kemudian baru ku angkat telepon itu.  Ternyata benar, papa minta maaf karena tidak bisa jadi bertemu denganku dan adik-adikku. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain, “Iya gapapa pa” dan menahan tangis yang mungkin akan lebih meledak dari yang tadi.





0 comments:

Post a Comment

I'd love to hear your thoughts! Please comment here :)