Sebelumnya aku telah mendapat telepon dari mama. Dia
menanyakan kapan aku akan pulang sore ini, karena besok aku harus mengantar
adik-adikku kerumah nenek dan bertemu Papa disana. Sudah hamper 6 bulan aku
tidak bertemu dengannya. Dia sangat sibuk
beberapa bulan belakangan ini. Mama sudah memperingatkan untuk tidak pulang
terlalu malam dan aku tahu benar resikonya jika membantah. Mendengar nyanyian
mama yang seperti hitz di radio itu.
Diulang lagi. Lagi. Dan lagi. Kali ini aku tidak mau melanggarnya. Serius.
Tapi.. entah kenapa aku hanya ingin masih di kamar ini. Aku masih ingin
menyendiri disini. Aku ingin disini lebih lama. Dengan alasan hendak
membereskan kamar dan tidur siang aku diperbolehkan untuk pulang agak
terlambat, dengan toleransi paling lambat pulang sore.
Ini sudah sore menjelang magrib di Bogor, aku masih tidak
mau bergerak meninggalkan kamar ini. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan
hawa dinginnya yang masih mau menyelimuti kulit ini. Dia bilang belum mau
pergi, sebelum perasaan dingin yang sedang aku rasakan saat ini juga pergi.
Biar kompak katanya. Dingin luar dalam. Entahlah. Aku memang sedang merasa
sangat tidak beraturan beberapa minggu belakangan ini. Sesuatu yang harus aku
persiapkan untuk waktu dekat ini adalah packing
barang-barang tidak terpakai untuk dibawah kerumah dan mental untuk
mendengar nyanyian mama lagi malam ini. Yup, sepertinya aku akan pulang
terlambat lagi malam ini.
I’m too excited for
everything. That’s fact.
Aku sangat senang akhirnya bisa ketemu papa malam minggu
ini, dirumah nenek di Jakarta. Aku telah membatalkan janjiku untuk mendatangi
suatu acara di kampus, acara tahunan untuk mahasiswa baru, OPEN HOUSE. Merasa
tidak enak, karena biasanya aku lagi-lagi terlau excited untuk acara seperti ini, tapi dengan berat hati aku harus
mendahulukan bertemu papa. 6 bulan bukan waktu yang sebentar. Lagipula tahun
lalu aku sudah menghadiri acara yang sama.
Tidak lama setelah itu, papa juga menelponku. Aku panik. Aku
benar-benar tidak mau kalau papa tahu aku sedang menangis. Aku menghela nafas
panjang, kemudian baru ku angkat telepon itu.
Ternyata benar, papa minta maaf karena tidak bisa jadi bertemu denganku
dan adik-adikku. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain, “Iya gapapa pa”
dan menahan tangis yang mungkin akan lebih meledak dari yang tadi.






0 comments:
Post a Comment
I'd love to hear your thoughts! Please comment here :)